Kuningan – Puluhan ikan dewa di temukan mati di Balong Girang, Desa Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, di duga akibat gangguan lingkungan perairan setempat sejak akhir Januari.
Peristiwa tersebut pertama kali di ketahui warga setempat pada Kamis pagi, 29 Januari 2026, dan kembali terjadi pada Jumat, 30 Januari 2026, di kawasan balong sakral.
Warga melaporkan temuan terbaru pagi tadi, Jumat (31/1), sekitar pukul 05.01 WIB, saat melihat beberapa bangkai ikan mengapung di permukaan air balong.
Balong Girang selama ini di kenal sebagai habitat ikan dewa atau Tor soro, spesies endemik bernilai budaya dan konservasi tinggi bagi masyarakat Cigugur.
Berdasarkan pendataan awal, jumlah ikan dewa mati tercatat sebanyak 22 ekor pada Kamis (29/1), kemudian kembali bertambah sekitar 20 ekor pada Jumat (30/1).
Sebagian besar ikan di temukan dalam kondisi luka pada kulit, sirip, serta area insang, menandakan adanya gangguan kesehatan sebelum kematian terjadi di perairan tersebut.
Kepala Bidang Perikanan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Kuningan, Denny Rianto, membenarkan adanya kejadian kematian ikan dewa di Balong Girang.
Menurut Denny Rianto, hasil investigasi sementara menunjukkan kematian ikan di duga di picu kombinasi faktor lingkungan perairan dan kondisi biologis ikan itu sendiri.
Petugas menemukan adanya infestasi parasit cacing jangkar atau Lernaea sp. yang menempel pada kulit, insang, hingga rongga mulut ikan dewa.
Infestasi parasit tersebut berpotensi menyebabkan stres, infeksi sekunder, serta menurunkan daya tahan tubuh ikan terhadap perubahan kualitas lingkungan perairan balong.
Hasil pengukuran kualitas air menunjukkan suhu perairan Balong Girang berada di kisaran 24 derajat Celsius dengan tingkat keasaman air sekitar pH 6.
Meski masih dalam batas toleransi, perubahan suhu dan pH yang berlangsung terus-menerus dapat memicu stres fisiologis pada ikan dewa yang sensitif.
Denny menjelaskan, kondisi cuaca dan di namika air balong dalam beberapa pekan terakhir turut memengaruhi keseimbangan ekosistem perairan alami tersebut.
Pihaknya kini melakukan pemantauan lanjutan, termasuk pengambilan sampel air dan jaringan ikan, untuk memastikan penyebab utama kematian secara ilmiah.
Pemerintah daerah berkoordinasi dengan pengelola balong dan tokoh adat setempat guna menjaga kelestarian ikan dewa sebagai simbol budaya Cigugur.
Sementara itu, warga sekitar mengaku khawatir kejadian tersebut dapat berulang dan mengancam populasi ikan dewa yang selama ini di jaga bersama.
Salah satu warga Desa Cigugur, Asep Mulyana (47), mengatakan bangkai ikan sudah terlihat sejak subuh dan langsung di laporkan kepada aparat desa.
“Pagi tadi sekitar jam lima, ikan sudah mengapung. Kami tidak berani menyentuh, langsung melapor supaya segera ditangani,” ujar Asep kepada tim redaksi.
Pihak dinas mengimbau masyarakat untuk ti dak mengambil, memindahkan, atau mengonsumsi ikan dewa yang di temukan mati di area Balong Girang.
Langkah tersebut di lakukan untuk mencegah risiko kesehatan serta menjaga proses investigasi penyebab kematian ikan tetap berjalan optimal dan akurat.
Selain itu, warga di minta menjaga kebersihan lingkungan sekitar balong dan tidak membuang sampah maupun limbah ke dalam perairan.
Balong Girang memiliki nilai historis dan spiritual bagi masyarakat Cigugur, sehingga pengelolaannya melibatkan pendekatan adat dan konservasi lingkungan.
Pemkab Kuningan berkomitmen menjaga kelestarian ikan dewa melalui pengawasan rutin dan edukasi masyarakat terkait perlindungan ekosistem perairan lokal.
Hingga kini, pemantauan masih di lakukan dan perkembangan terbaru akan di sampaikan kepada publik setelah hasil pemeriksaan laboratorium selesai di lakukan.
Pemerintah daerah berharap masyarakat tetap tenang dan berperan aktif menjaga Balong Girang sebagai warisan alam dan budaya Kabupaten Kuningan.
Sumber gambar: kuninganid.com
